Infatuasi atau Cinta?
Dalam lagu Hozier “Francesca” yang terinsipirasi dari buku Inferno, Hozier menyebutkan “Though I know my heart would break, I’ll tell them to put me back in it”. Pada dasarnya lagu tersebut berbicara dari sudut pandang kekasih Francesca, yang dipaksa untuk berpisah karena cinta mereka yang terlarang. Dia tidak peduli akan seberapa rasa sakit yang diberikan orang lain kepadanya, selama dia bisa tetap bersama belahan jiwanya. Dia tidak masalah jika harus mengalami rasa sakit itu berkali-kali, dia tidak menyesalinya. Lantas pertanyaannya: apakah rasa cinta cukup untuk membuat seseorang rela mengalami luka mendalam secara berulang, hanya supaya mereka bisa secara terus menerus berada dalam cinta?
Sepertinya ada garis yang buram
antara infatuasi dan cinta. Mungkin, seharusnya cinta bersifat selfless.
Mereka yang merasakan cinta terhadap sesuatu—seseorang, tidak akan rela jika yang
dicintainya merana. Seluruh doa dan upaya pasti mereka panjatkan demi kebaikan
pujaan hatinya. Namun, rela untuk mengalami satu luka berkali-kali demi tetap
merasakan cinta? Dan mengambil risiko bahwa pihak yang dicintainya juga harus
melewati lara yang sama? Bisa jadi itu adalah infatuasi.
Berbeda dengan cinta, infatuasi cenderung
berada dalam ranah selfish. Ketika infatuated, seseorang akan secara
berkelanjutan melakukan hal yang dapat memuaskan rasa ingin mereka.
Paolo (kekasih Francesca dalam Inferno) bahagia ketika bersama
Francesca. Dirinya merasa penuh dengan keberadaan Francesca. Bahagia dan
penuh itu membuat Paolo kecanduan, mungkin. Dia menemukan perasaan baru yang
belum pernah dia alami sebelumnya, dan oleh karenanya dia bersedia menaklukkan
apapun untuk terus menguasai perasaan itu.
Ataukah jangan-jangan, infatuasi
dan cinta tidak saling meniadakan?
Bisa jadi infatuasi menumbuhkan
cinta, dan cinta membuat infatuasi terus ada. Pada kasus Francesca dan Paolo,
tatapan yang saling mengekspos satu sama lain mungkin menimbulkan gairah. Paolo
bergetar ketika pertama kali mencium Francesca, menunjukkan dahsyatnya
efek keintiman mereka terhadap semesta Paolo. Orang yang untuk pertama kalinya
merasakan hal semacam itu, pasti tergerak untuk melakukan hal lain demi
merasakannya lagi, meskipun dia tahu mungkin itu tidak seharusnya. Pada tahap
ini, dapat dikategorikan Paolo mengalami infatuasi.
Tapi apakah infatuasi Paolo
pernah berubah menjadi cinta? Di kehidupan kemudian di mana Dante bertemu
dengan mereka, mungkin. Namun, dalam salah satu versi cerita mereka, di dunia
Paolo mencoba kabur ketika suami Francesca hampir memergoki mereka,
kemudian menyaksikan Francesca terbunuh ketika mencoba melindunginya (meski
kemudian dia juga dibunuh). Perasaan yang dialaminya ketika bersama Francesca
ternyata tidak mencapai ambang batas keamanan-nya. Alih-alih berdiri
gagah menghadapi suami Francesca demi memperjuangkan cinta mereka, Paolo lebih
memiliki rasa ingin menyelamatkan diri.
Di dunia, lebih jelas bahwa Francescalah
yang mengalami infatuasi dan cinta. Dia melakukan kegiatan selfish dengan
menempatkan Paolo dalam bahaya itu sendiri karena dengan berani berselingkuh
dari suaminya dengan saudara kandung suaminya sendiri, tetapi Francesca juga selfless
karena berani melempar dirinya di antara suaminya dan Paolo, demi
melindungi Paolo.
Jadi, premis yang dapat
disimpulkan, ketika jantung mereka masih sama-sama berdetak, Paolo merasakan infatuasi, sementara Francesca merasakan infatuasi dan cinta.
Atas penjabaran di atas, masing-masing
dari kita perlu merefleksikan kembali: yang selama ini kita rasakan itu,
infatuasi, cinta, atau keduanya secara paralel? Dan atas hasil refleksi
tersebut, apakah hubungan yang masing-masing dari kita jalani saat ini pantas
untuk dilanjutkan?


Komentar
Posting Komentar